Adab - Adab Dalam Jihad

Aqiqah surabaya. Barangsiapa yang menolak tegaknya hukum-hukum Allah, maka dengan sedirinya dia telah menggunakan paradigma fir'aun dalam mengarungi kehidupan walaupun tidak mengatakan ana robbukumul a'la. Kisah Fir'aun yang begitu banyak di ceritakan dalam Al-Qur'an bukan sekedar dongeng masa lalu, akan tetapi terus eksis dan senantiasa tumbuh berganti seiring perputaran roda kehidupan hingga akhir zaman. Tugas kita umat Islamlah untuk memerangi fir'aun-fir'aun modern abad ini yang semakin arogan melakukan kedholiman. Jihad fie sabilillah dalam memerangi fir'aun tidak akan pernah surut, karena itu adalah ketentuan, sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi Wasallam bahwa akan selalu ada sekelompok orang yang berpegang teguh diatas kebenaran memerangi orang-orang yang menentang Kitabullah dan Sunnah RasulNya. Bahkan tidak jarang kita saksikan perjuangan yang dilancarkan oleh Mujahidin-Mujahidin dari seluruh penjuru dunia menuai Keberhasilan bahkan tidak sedikit yang mampu menegakan Hukum Allah di daerah dimana mereka berjuang. Kemenangan yang diperoleh itu tidak lepas dari dukungan disertai Usaha keras para Mujahid, dan yang terpenting adalah karunia Allah ‘Azza wa jalla. Tentunya tidak serta merta kemenangan tersebut dapat diraih dengan hanya mengandalkan 1 faktor tanpa memperhatikan factor-faktor penting lainnya. Salah satu faktor penting itu antara lain adalah Kitman, atau biasa kita kenal dengan istilah; Menjaga Rahasia Kemiliteran. Kitman merupakan salah satu factor utama yang wajib diperhatikan para Mujahid, karena dengannya rebuah perjuangan bisa sampai kepada titik yang mampu merontokkan kekuatan musuh, bahkan kita bisa dengan mudah menguasai Informasi dan menjadi Master Mind atas kekuatan yang dimiliki lawan.
          Dalam istilah kemiliteran kotemporer, Kitman mengandung banyak pengertian, beberapa diantaranya adalah :
  • Merahasiakan informasi-informasi Militer terutama yang berhubungan dengan data Kualitatif
  • Merahasiakan informasi-informasi persenjataan, struktur organisasi, kemampuan logistic, pusat komando.
  • Merahasiakan maneuver-manuver yang akan dilancarkan.
  • Dan Merahasiakan pemetaan musuh, tata letak geografis dari jangkauan kawan maupun lawan.
Merupakan sebuah keharusan menyembunyikan informasi-informasi militer dari jangkauan musuh tidaklah memerlukan penjelasan yang bertele-tele, sebab sisi-sisi mudharatnya sudah dapat kita kenali secara umum. Namun, merahasiakan informasi-informasi militer terhadap pihak kawan membutuhkan penjelasan. Mengapa demikian, hal ini dikarenakan bahwa dalam sebuah organisasi apalagi yang bersifat underground itu sangat tidak menutup kemungkinan terjadinya infiltrasi terhadap gerakan-gerakan tersebut.
 Jenis Kawan dalam kemiliteran ada 2 :
  1. Kawan yang memiliki hubungan dengan masalah-masalah militer yang bersangkutan. Kawan jenis ini tidak perlu diragukan (walupun kewaspadaan itu harus tetap ada), jadi tidak terlalu bermasalah jika harus berbagi informasi dengan kawan tersebut (namun tetap memperhatikan kaidah-kaidah amniyah). Ex : orang yang memiliki Tugas tertentu dalam operasi-operasi yang akan dilancarkan. Biasanya memiliki berbagai bidang / divisi masing-masing.
  2. Kawan yang tidak memiliki kaitan sama sekali dengan operasi-operasi militer yang bersangkutan (Anggota biasa / Simpatisan). Terhadap kawan jenis ini, informasi-informasi yang menyangkut dengan masalah inti dalam pelaksanaan operasi-operasi kemiliteran wajib dijauhkan. Karena kawan tipe begini ini biasanya sedang mengalami semangat yang meledak-ledak dan cenderung senang menonjolkan diri sehingga informasi penting yang semestinya dirahasiakan, tanpa disadari akhirnya tersiar. Atau ia tidak memiliki appresiasi akan urgensi informasi yang ia pegang sehingga dengan mudah dibeber di sembarang tempat.
Dan point pentingnya adalah bahwa seorang Jundullah sejati tidak gampang menceritakan informasi secara serampangan kepada orang lain. meskipun terhadap kerabat atau keluarganya sendiri.

BELAJAR DARI Hatib bin Abi Baltaah (Kisah Fathu Mekkah) 
          Hatib bin Abi Baltaah adalah seorang Shahabat (Ahlu Badr) dan seorang Intelejen yang dikirim Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam sebelum fatkhu mekkah. Hatib diperintahkan untuk menjaga agar informasi mengenai kedatangan dan tujuan beliau ke Mekkah tidak diketahui oleh Kaum Quraisy. Namun, ternyata Hatib bin Abi Baltaah mengirimkan sepucuk surat dititipkan kepada seorang wanita yang sedang melakukan perjalanan menuju Mekkah untuk keluarganya disana. Dalam surat tersebut secara tidak langsung dia telah membocorkan rahasia mengenai rencana Rasulullah dan kaum muslimin menaklukan kota Mekkah. Ketika  Nabi mengetahui perihal titipan surat Abi Baltaah, Beliau segera mengutus Ali bin abi Thalib dan Zubair bin Awwam untuk mengejar wanita itu. Keduanya berhasil menyusul si pembawa surat, lalu merampas surtat tersebut darinya. Kemudian Rasulullaah SAW. pun memanggil Hatib dan bertanya :
Apa yang mendorong kamu sehingga berbuat demikian?
Hatib menjawab : “Wahai Rasulullaah, Demi Allah sungguh saya beriman kepada Allah dan RasulNya, dan saya tidak sedikitpun bergeser dari keyakinan itu. Tapi saya ini adalah seorang lelaki yang sama sekali tidak memiliki kerabat. Di tengah bangsa Quraisy itu terdapat anak-anak dan keluargaku. Saya melakukan semua itu untuk melunakan hati orang Quraisy demi keselamatan Keluargaku.”
Umar bin Khatthab pun berkata :
Wahai Rasulullaah, izinkanlah saya menebas batang lehernya, sungguh dia telah berlaku Nifaq!
Rasulullaah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
Boleh jadi dia berkata jujur kepada kalian, tetapi*bukankah Allah telah berfirman kepada orang-orang yang telah ikut dalam Perang Badar : “Berbuatlah sesukamu!
          Dari kisah tersebut bisa kita ambil pelajaran betapa berhati-hatinya Rasulullah dalam mengantisipasi bocornya informasi mengenai kaum muslimin kepada orang-orang kuffar. Ini merupakan bukti riil dari realisasi pola Kitman yang rapi, dan lihatlah komitmen Shahabat seperti Umar yang berani menghadap Rasulullah serta meminta izin untuk menghabisi nyawa Hatib bin Abi Baltaah yang telah gagal melaksanakan Kitman. Saat ini begitu bagi gampang intelejen musuh membaca pergerakan kaum muslimin, hal tersebut karena lemahnya system pengamanan dalam sebuah aksi yang hanya mementingkan semangat tanpa mengedepankan kewaspadaan secara menyeluruh, meskipun dengan keluarga dan kerabat dekat. Sebab bisa jadi teman dekat atau keluarga sekarang ini, menjadi musuh di masa yang akan datang.
Semoga Allah Senantiasa menjaga para Mujahidin dan meneguhkan persatuan diantara mereka…!